Selasa, 21 Maret 2017

TUGAS 1 PSIKOTERAPI

TUGAS
I.          PSIKOTERAPI
1.    Definisi Psikoterapi
Psikoterapi secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang diartikan sebagai jiwa dan “theraphy” dari bahasa yunani yang berarti merawat atau mengasuh. Dalam bahasa arab psyche dapat dipadankan dengan “nafs” dengan bentuk jama’nya “anfus” atau “nufus” yang berarti jiwa, ruh, darah, jasad, orang diri dan sendiri. Sedangkan therapy berarti penyembuhan atau pengobatan. Psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli diantaranya :
A.  Corsini : Psikoterapi adalah proses moral dari interaksi dari dua pihak dengan tujuan untuk keadaan yang tidak menyenangkan pada salah satu bidang.
B.  Lewis R. Worberg M.D. : Psikoterapi adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan ; menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada.
C.  Warson dan Morse : Psikoterapi adalah bentuk khusus dari interaksi antara dua orang pasien dan terapis pada mana memiliki dari interaksi.
D.  C. P. Chaplin : Psikoterapi adalah penyembuhan lewat keyakinan agama dan diskusi personal dengan para guru ataupun teman.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka pengertian psikoterapi adalah proses perawatan atau penyembuhan penyakit kejiwaan melalui teknik dan metode psikologi. Definisi Psikoterapi lainnya Interaksi sistematis klien-terapis dengan memanfaatkan prinsip psikologis, untuk melakukan perubahan pikiran, perasaan dan perilaku klien, dengan tujuan membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecahkan masalah dan atau berkembang sebagai individu.
2.    Tujuan Psikoterapi
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual. Memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang dan menemukan sendiri arahnya secara wajar. Menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik. agar seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional dan toleran.
Dapat disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain : Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi), Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat), Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang), Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien).
3.    Ciri-Ciri Psikoterapi
Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
A.    Dari segi proses :  berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
B.     Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis yang sudah ada.
C.    Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji efektivitasnya.
4.    Unsur Psikoterapi
Tujuh “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur pada semua jenis psikoterapi :


A.  Peran sosial (martabat) psikoterapis,
B.  Hubungan (persekutuan terapeutik),
C.  Hak,
D.  Retrospeksi,
E.  Re-edukasi,
F.   Rehabilitasi,
G. Resosialisasi dan rekapitulasi.


Unsur – unsur psikoterapi dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi serta dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapi, keadaan mental dan kebutuuhan pasien.
5.    Perbedaan Antara Psikoterapi Dan Konseling
Konseling
Psikoterapi
< intensif
> intensif
preventif
Kuratif / reapartif
Fokus : edukasi, vocational, perkembangan
Fokus : remedial
Setting : sekolah, industri, social work,
Setting : rumah sakit, klinik, praktek pribadi,
Jumlah intervensi <
Jumlah intervensi >
supportive
rekonstructive
Penekanan “normal”
/ masalah ringan
Penekanan “disfungsi” / masalah berat
Short term
Long term
Corsini :
Teknik2 / proses2 secara kualitatif sama, tetapi secara kuantitatif berbeda Persentase waktu yang digunakan oleh konselor & psikoterapis dalam aktivitas profesionalnya :
Proses
Konseling (%)
Psikoterapi (%)
listening
20
60
questioning
15
10
evaluating
5
5
interpreting
1
3
supporting
5
10
explaining
15
5
informing
20
3
advising
10
3
ordering
9
1
6.    Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illnes
A.  Biological : Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
B.  Psychological : Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
C.  Sosiological : Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang memiliki latar belakang kondisi sosio-budaya tertentu.
D.  Philosophic : Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

II.          TERAPI PSIKOANALISIS
1.    Konsep Dasar Teori Psikoanalisis Tentang Kepribadian
A.  Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalaitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem: id, ego, dan superego.
·      Id adalah komponen biologis yang orisisnil pada setiap orang dan id sudah ada semenjak ketika kita dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
·      Ego adalah komponen psikologis, memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Sebagai "polisi lalu lintas" bagi id, superego dan dunia eksternal, tugas utama ego adalah mengantarai naluri-naluri dengan lingkungan sekitar.
·      Superego merupakan komponen sosial, cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah.
B.  Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pada dasarnya pesimistik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama kehidupan.
C.  Kesadaran Dan Ketidaksadaran
Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Ketidaksadaran tidak bisa dipelajari secara langsung, ia bisa dipelajari dari tingkah laku. Pembuktian klinis guna membuktikan konsep ketidaksadaran mencakup:
·      Mimpi-mimpi yang merupakan representasi simbolik dari kebutuhan, hasrat, dan konflik tak sadar.
·      Salah ucap atau lupa, misalnya terhadap nama yang dikenal
·      Sugesti-sugesti pascahipnotik
·      Bahan-bahan yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
·      Bahan-bahan yang berasal dari teknik-tekni proyektif. Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa.
D.  Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman bahaya itu tidak diambil. Apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan melalui cara-cara yang rasional dan langsung, maka ego akan mengandalkan cara-cara yang tidak realistis, yakni tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego.
2.    Unsur-Unsur Terapi Psikoanalisis
A.  Munculnya Masalah Atau Gangguan
Terapis melakukan upaya  memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan yang dimiliki klien, untuk lebih mengenal penyebab gangguan yang dialaminya, kemudian terapis, memperkuat kondisi psikis dari diri klien, sehingga apabila klien mengalami gangguan, diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi dengan cepat.
B.  Tujuan Terapi
Adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari dari dalam diri klien difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikolanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengertian intelektuak memiliki arti penting, tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman lebih penting lagi.
C.  Peran Terapis
Terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sedikit perasan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien, yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Analis terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal, dan dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional.
3.    Teknik Terapi Psikoanalisis
Teknik-teknik pada terapi psikoanalisis disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh permahaman intelektual atas tingkah laku klien, dan untuk memahami makna berbagai gejala. Kemajuan terapi berawal dari pembicaraan klien kepada katarsis, kepada pemahaman, kepada penggarapan bahan yang tak disadari, ke arah tujuan-tujuan pemahaman dan pendidikan ulang intelektual dan emosional, yang diharapkan mengarah pada perbaikan kepribadian. kelima teknik dasar terapi psikoanalisa adalah:
A.  Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lampau yang dikenal dengan sebutan kartarsis. Metode yang digunakan klien diminta untuk mengatakan apa pun yang datang ke pikiran sehingga memungkinkan isi dari pikiran bawah sadar untuk menyelinap melewati sensor ego. Agar klien membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan, sebisa mungkin, mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya, betapapun menyakitkan, remeh, tidak logis, dan tidak relevan kedengarannya dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan.
B.     Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran-penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran harus tepat waktu, sebab klien akan menolak penafsiran-penafsiran yang diberikan pada saat yang tidak tepat.
C.  Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkapkan bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasan yang direpresi muncul ke permukaan. Beberapa motivasi sangat tidak bisa diterima oleh orang yang bersangkutan sehingga diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan diungkapkan secara terang-terangan dan langsung .
D.  Analisis dan Penafsiran Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran klien. Resistensi-resistensi bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan perwujudan dari pendekatan-pendakatan defensif klien yang biasa dalam kehidupan sehari-harinya, resistensi-reisistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap kecemasan, tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan.
E.  Analisis dan Penafsiran Transferensi
Analis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memeroleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan deprivasi-deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan yang menghambat pertumbuhan emosionalnya. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analisis. Transferensi dalam proses terapeutik ketika "urusan yang tak selesai" di masa lampau klien dengan orang-orang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana dia bereaksi terhadap ibu atau ayahnya.

III.          TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
1.    Konsep Dasar Teori Humanistik Eksistensial Tentang Kepribadian
A.  Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia.
B.  Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.
C.  Penciptaan Makna
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian, manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula. Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.
2.    Unsur-Unsur Terapi Humanistik Eksistensial
A.  Munculnya Gangguan
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
B.  Tujuan Terapi
·      Membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan hidup manusia sendiri.
·      Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
·      Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi.
·      Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
·      Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3)memikul tanggung jawab untuk memilih.
C.  Peran Terapis
Psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
·      Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
·      Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
·      Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
·      Berorientasi pada pertumbuhan
·      Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
·      Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
·      Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
·      Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
·      Bekerja kearah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
3.    Teknik-Teknik Terapi Humanistik Eksistensial
Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling berasal dari beberapa teori konseling lainnya separti teori Gestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor adalah menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia memaknainya. Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien yang muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Terapi eksistensial humanistik merupakan terapi yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pada pemahaman filosofis tentang menjadi manusia yang utuh, apa makna menjadi manusia, dan apa makna keberadaannya. Dalam terapi humanistik eksistensial yang perlu di perhatikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:


·      Penerimaan
·      Rasa hormat
·      Memahami
·      Menentramkan
·      Memberi dorongan
·      Pertanyaan terbatas


·      Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
·      Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
·      Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna

IV.          PERSON CENTERED THERAPY
1.    Konsep Dasar Pandangan Rogers Tentang Kepribadian
Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Terapi terpusat pada pribadi didasarkan pada falsafah sifat naluri manusia yang menegaskan adanya usaha untuk beraktualisasi diri. Pandangan Rogers tentang sifat naluri manusia adalah fenomenologis; yaitu kita membentuk diri sendiri sesuai dengan persepsi kita tentang realitas. Kita dimotifikasi untuk mengaktualisasi diri kita sendiri dalam lingkup persepsi kita akan realitas.
Konsep-konsep dasar Terapi Person-Centered
A.  Menekankan pada dorongan dan kemampuan yang terdapat dalam diri individu yang berkembang, untuk hidup sehat dan menyesuaikan diri.
B.  Menekankan pada unsur atau aspek emosional dan tidak pada aspek intelektual.
C.  Menekankan pada situasi yang langsung dihadapi individu, dan tidak pada masa lampau.
D.  Menekankan pada hubungan terapeutik sebagai pengalaman dalam perkembangan individu yang bersangkutan.
Konsep dasar pandangan tentang manusia :
Pandangan person centered tentang sifat manusia konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif dasar. Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke muka, sebagai berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam. Manusia dipercayai karena pada dasarnya kooperatif dan konstruktif, tidak perlu diadakan pengendalian. Maka dengan pandangan ini, terapi person-centered berakar pada kesanggupan seseorang (klien) untuk sadar dan membuat putusan-putusan
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
A.  Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu terkait akan kesadaran.  Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
B.  Realitas
Realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
C.  Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan.
D.  Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain.
E.  Frame Internal Referensi
Kerangka acuan internal memberikan pemahaman sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
F.   Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
G. Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong.
H.  Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
I.     Organismic Valuing Process
Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis. Di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian.
J.    The Fully Functioning Person
Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.
2.    Unsur-Unsur Terapi Person Centered Therapy
Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik.
A.  Munculnya gangguan
Pendekatan humanistic Rogers terhadap terapi Person Center Therapy, membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan pengharagaan dalam hubungan terapeutik. Hambatan atas pertumbuhan psikologis terjadi saat seseorang mengalami penghargaan bersyarat,  inkongruensi, sikap defensif, dan disorganisasi. Penghargaan bersyarat dapat berakibat pada kerentanan, kecemasan, dan ancaman serta menghambat manusia dari merasakan penerimaan positif yang tidak bersyarat.
Orang-orang yang cenderung tidak menyadari inkongruensi mereka, memungkinkan untuk merasa lebih cemas, terancam, dan defensif.
B.     Tujuan Terapi
Terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Memberikan penjelasan sesuai dengan logika bahwa ketika seseorang merasakan sendiri bahwa mereka dihargai dan diterima tanpa syarat, mereka menyadari bahwa mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat dicintai. Sehingga, tujuan dari person-centered therapy adalah untuk membuat klien/pribadi seseorang dapat menghargai dan menerima diri mereka sendiri dan untuk mempunyai penerimaan positif yang tidak bersyarat terhadap diri mereka.
C.  Peran Terapis
Peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial. Terapis yang berperan pasif dapat ditafsirkan oleh pasien bahwa terapis tidak menganggap pasien sebagai orang yang berharga. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien. Peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan kemampuan yang pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang secara optimal, dengan cara menciptakan hubungan konseling yang hangat.
3.    Teknik – Teknik Terapi Person Centered Therapy
Terapi ini tidak memiliki metode atau teknik yang spesifik, sikap-sikap terapis dan kepercayaan antara terapis dan klienlah yang berperan penting dalam proses terapi. Terapis membangun hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Dalam terapi ini pada umumnya menggunakan teknik dasar mencakup mendengarkan aktif, merefleksikan perasaan-perasaan atau pengalaman, menjelaskan, dan “hadir” bagi klien, namun tidak memasukkan pengetesan diagnostik, penafsiran, kasus sejarah, dan bertanya atau menggali informasi. Teknik-teknik harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa digunakan secara sadar diri, sebab dengan demikian terapis tidak akan menjadi sejati.  Teknik Person Centered Therapy :
A.  Evolusi Metode Terpusat Pada Pribadi.
Dalam kerangka terpusat pada pribadi “tekniknya” adalah mendengarkan, menerima, menghormati, memahami dan berbagi. Tekniknya haruslah ungkapan yang jujur dari terapinya; teknik-teknik itu tidak bisa digunakan berdasarkan kepuasan diri, oleh karena dengan demikian konselor itu tidak asli. Pendekatan berpusat pada pribadi yang ada sekarang dipahami sebagai yang terutama untuk proses menolong klien bisa menemukan makna personal yang baru dan lebih memuaskan tentang dirinya sendiri dan dunia tempat ia tinggal. Kawasan aplikasi yang penting termasuk pendidikan, kehidupan keluarga, kepemimpinan, dan administrasi, perkembangan organisasi, perawatan kesehatan, aktivitas antara-rasial dan antar-budaya, hbungan internasional dan pencarian pada perdamaian dunia.
B.  Kawasan Aplikasi.
Bagi orang yang memiliki latar belakang yang terbatas dalam hal psikologi konseling, dinamika pribadi, dan psikopatologi, pendekatan ini memberinya kepastian bahwa klien yang dihadapi tidak akan mendapatkan bahaya secara psikologis. Penentuan diagnosis, penelitian alam tidak sadar, penganalisisan mimpi, dan bekerja menuju ke berubahnya kepribadian yang lebih radikal. Jadi pendekatan ini lebih aman dibandingkan dengan banyak model terapi yang menempatkan terapis dalam posisi si pemberi arahan dalam hal pemberian intrepretasi.
Teknik-teknik konseling, konselor harus memiliki tiga sikap dasar dalam memahami dan membantu konseli, yaitu :
A.  Congruence
Bagaimana konselor tampil nyata, utuh, otentik dan tidak palsu serta terintegrasi selama pertemuan konseling. Konselor tidak diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara impulsif terhadap konseli. Pendekatan person centered therapy berasumsi bahwa jika konselor selaras atau menunjukkan kesejatiannya dalam berhubungan dengan konseli, maka proses konseling bisa berlangsung.
B.  Unconditional Positive Regard
Perhatian tak bersayarat tidak dicampuri oleh evaluasi atau  penilaian terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku konseli sebagai hal yang buruk atau baik. Semakin besar derajat kesukaan,  perhatian dan penerimaan hangat terhadap konseli, maka semakin besar  pula peluang untuk menunjung perubahan pada konseli.
C.  Accurate Empathic Understanding
Sikap ini merupakan sikap yang krusial, dimana konselor benar- benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam  berempati guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif konseli. Tugas konselor adalah membantu kesadaran konseli terhadap  perasaan-perasaan yang dialami. Rogers percaya bahwa apabila konselor mampu menjangkau dunia pribadi konseli sebagaimana dunia  pribadi itu diamati dan dirasakan oleh konseli, tanpa kehilangan identitas dirinya yang terpisah dari konseli, maka perubahan yang konstruktif akan terjadi.
Terapis harus membawa ke dalam hubungan tersebut sifat-sifat khas yang berikut :
1)   Menerima
Terapis menerima pasien dengan respek tanpa menilai atau mengadilinya entah secara positif atau negatif. Pasien dihargai dan diterima tanpa syarat. Dengan sikap ini terapis memberi kepercayaan sepenuhnya kepada kemampuan pasien untuk meningkatkan pemahaman dirinya dan perubahan yang positif.
2)   Keselarasan (congruence)
Terapis dikatakan selaras dalam pengertian bahwa tidak ada kontradiksi antara apa yang dilakukannya dan apa yang dikatakannya.
3)   Pemahaman
Terapis mampu melihat pasien dalam cara empatik yang akurat. Dia memiliki pemahaman konotatif dan juga kognitif.
4)   Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas ini
Terapis mampu mengkomunikasikan penerimaan, keselarasan dan pemahaman kepada pasien sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan terapis jelas bagi pasien.
5)   Hubungan yang membawa akibat. Suatu hubungan yang bersifat mendukung (supportive relationship), yang aman dan bebas dari ancaman akan muncul dari teknik-teknik diatas.

Sumber :
Corsini, R. (2000). Current Psychotherapies. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Mappiare, A. (2004). Pengantar Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta, Raja Grafindo Persada.

Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Minggu, 08 Januari 2017

Kepuasan kerja

1.    Pengertian Kepuasan kerja
Salah satu sarana penting pada manjemen sumber daya manusia dalam  sebuah orgaisasi adalah terciptanya kepuasan kerja para pegawai/ karyawan. Kepuasan kerja adalah bentuk perasaan dan ekspresi seseorang ketika mampu atau tidak mampu memenuhi harapan dari proses kerja dan kinerjanya. Kepuasan kerja adalah suatu keadaan emosional yang menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja. Kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda-beda terhadap pekerjaan yang dilakukan. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya.
2.    Kepuasan Kerja Menurut Para Ahli
A.  Robbins menyatakan bahwa Kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima dan jumlah mereka yakini dengan seharusnya mereka terima.
B.  Handoko menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka.
C.  Husain Umar menyatakan bahwa Kepuasan kerja adalah perasaan dan penilaian seorang atas pekerjaannya, khususnya menegenai kondisi kerjanya, dalam hubungannya dengan apakah pekerjaannya mampu memenuhi harapan, kebutuhan, dan keinginannya.
D.  Luthans menyatakan bahwa kepuasan timbul dari evaluasi terhadap suatu pengalaman, atau pernyataan secara psikologis akibat suatu harapan dihubungkan dengan apa yang mereka peroleh.
E.   Anoraga menegaskan bahwa kepuasan kerja adalah kepuasan yang berhubungan dengan sikap karyawan terhadap pekerjaan itu sendiri, situasi kerja, hubungan antara atasan dengan bawahan dan hubungan sesama karyawan.
3.    Faktor-faktor Kepuasaan Kerja
A.  Gaji,  yaitu  jumlah  bayaran  yang  diterima  seseorang  dari pelaksanaan  kerja  apakah  sesuai  dengan  kebutuhan  dan  dirasakan adil.
B.  Pekerjaan  itu  sendiri,  yaitu  isi  pekerjaan  yang  dilakukan  seseorang apakah memeliki elemen yang memuaskan.
C.  Rekan sekerja, yaitu kepada siapa seseorang  senantiasa berinteraksi  dalam  pelaksanaan  pekerjaan.  Seseorang  dapat merasakan  rekan  kerjanya  sangat  menyenangkan  atau  tidak menyenangkan.
D.  Atasan,  yaitu  seseorang  yang  senantiasa  memberi  perintah  atau petunjuk  dalam  pelaksanaan  kerja.  Cara-cara  atasan  dapat  tidak menyenangkan  bagi  seseorang  atau  menyenagkan  hal  ini  dapat mempengaruhi kepuasaan kerja.
E.   Promosi,  yaitu  kemungkinan  seseorang  dapat  berkembang  melalui kenaikan  jabatan.  Seseorang  dapat  merasakan  adanya  kemungkinan yang  besar  untuk  naik  jabatan  atau  tidak,  proses  kenaikan  jabatan terbuka  atau  tidak  terbuka dapat  mempengaruhi  tingkat kepuasaan kerja seseorang.
F.   Lingkungan kerja, yaitu lingkungan fisik dan psikologis.  Lingkungan fisik  yaitu termasuk  suhu,  udara  suasana  temaot  kerja,  sedangkan psikologis termasuk waktu kerja, waktu istirahat.
4.    Aspek Dalam Mengukur Kepuasaan Kerja:
A.  Aspek psikologis, berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat,  ketentraman  kerja,  sikap  terhadap  kerja,  bakat  dan ketrampilan.
B.  Aspek fisik,  berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi  fisik karyawan,  meliputi  jenis  pekerjaan,  pengaturan  waktu kerja,  pengaturan  waktu istirahat,  keadaan  ruangan,  suhu  udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
C.  Aspek sosial, berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun antar karyawan yang berbeda jenis kerjanya serta hubungan dengan anggota keluarga.
D.  Aspek  finansial,  berhubungan  dengan  jaminan  serta  kesejahteraan karyawan,  yang  meliputi  sistem  dan  besar  gaji,  jaminan  sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi.
5.    Jenis-jenis Kepuasan Kerja
A.  Kepuasan  kerja  di  dalam  pekerjaan  merupakan  kepuasan kerja  yang  dinikmati  dalam  pekerjaan  dengan  memperoleh  pujian hasil  kerja,  penempatan,  perlakuan,  dan  suasana  lingkungan  kerja yang  baik.  Karyawan  yang  lebih  suka  menikmati  kepuasan  kerja dalam  pekerjaan  akan  lebih  mengutamakan  pekerjaannya  dari  pada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
B.  Kepuasan di luar pekerjaan adalah kepuasan  kerja karyawan yang dinikmati diluar pekerjaannya dengan besarnya balas jasa yang akan  diterima  dari  hasil  kerjanya.  Balas  jasa  atau  kompensasi digunakan  karyawan  tersebut  untuk  mencukupi  kebutuhannya.  Karyawan  yang  lebih  menikmati  kepuasan  kerja  di luar pekerjaan lebih meperhatikan balas jasa dari pada pelaksanaan tugas-tugasnya.  Karyawan  akan  merasa  puas  apabila  mendapatkan imbalan yang besar.
C.  Kepuasan  kerja  kombinasi  dalam  dan  luar  pekerjaan merupakan kepuasan kerja yang mencerminkan oleh sikap emosional yang seimbang  antara balas jasa dengan pelaksanaan pekerjaannya. Karyawan  yang  lebih  menikmati  kepuasan  kerja  kombinasi  dalam dan  di  luar  pekerjaan  ini  akan  merasa  puas  apabila  hasil  kerja  dan balas jasa dirasanya adil dan layak.
6.    Respon Terhadap Ketidakpuasaan Kerja
Dalam  suatu  organisasi  di  mana  sebagian  terbesar  pekerjaannya memperoleh  kepuasaan  kerja,  tidak  tertutup  kemungkinan  sebagian  kecil  di antaranya merasakan ketidakpuasaan.
A.  Exit, Ketidakpuasaan  ditunjukkan  melalui  perilaku  diarahkan  pada meninggalkan  organisasi,  termasuk  mencari  posisi  baru  atau mengundurkan diri.
B.  Voice, Ketidakpuasaan  ditunjukkan  secara  pasif,  tetapi  optimistik  dengan menunggu  kondisi  untuk  memperbaiki,  termasuk  dengan  berbicara bagi  organisasi  dihadapan  kritik  eksternal  dan  mempercayai organisasi dan manjemen melakukan hal yang benar.
C.  Loyalty, menunggu secara pasif sampai kondisi menjadi lebih baik termasuk membela perusahaan terhadap kritik dari luar.
D.  Neglect, Ketidakpuasaan  ditunjukkan  melalui  tindakan  secara  pasif membiarkan  kondisi  semakin  buruk,  termasuk  kemankiran  atau keterlambatan  secara  kronis,  mengurangi  usaha,  dan  meningkatkan tingkat kesalahan.
Contoh kasus Ketidakpuasaan Kerja
Gagasan kaku mengenai cara dan sasaran perusahaan
            Seorang wakil presiden suatu industri dipanggil oleh pimpinan eksekutifnya setelah terjadi pemecatan manajer yang keempat dalam jangka waktu lima tahun di pabrik yang sama. Ketika diminta untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya, wakil presiden perusahaan itu mengatakan, masalahnya masih tetap yang lama yaitu rendahnya gaji manajer perusahaan. Ini merupakan masalah yang dirasakan dalam semua operasi perusahaan, yang menyebabkan pemecatan banyak manajer yang “sedikit atau sama sekali tidak mempunyai latar belakang dalam manajemen, tidak mempunyai prestasi sukses yang istimewa dan tidak memiliki pengetahuan yang luas mengenai bisnis perusahaan”.
            Pimpinan eksekutif perusahaan itu mengatakan, ia telah mendengar semua yang dikatakan itu sebelumnya, dan dengan demikian secara tidak langsung masalah itu memang ada. Tetapi kemudian ia mengatakan, “Anda tahu bagaimana perasaan saya mengenai gaji yang besar. Itu tidak tepat.” Wakil presiden perusahaan menjelaskan bahwa manajemen perusahaan semakin lemah karena terlalu banyak waktu digunakan untuk memecahkan masalah daripada membangun basis yang kuat. Di samping itu penjualan meningkat, tetapi keuntungan tetap. Sekali lagi pimpinan eksekutif tidak sependapat dengan wakil presiden perusahaan. la mengatakan, kalau para manajer mendapat gaji lebih besar, setiap orang akan menuntut kenaikan gaji.
            Akhirnya, wakil presiden perusahaan melontarkan argumentasinya yang paling ampuh bahwa patokan demikian menyebabkan pengeluaran yang besar sekali. la menaksir kita rugi 200.000 dollar di pabrik tahun lalu, sedangkan dengan tambahan 20.000 dollar dalam bentuk kenaikan gaji, kita dapat memiliki manajer dan staf yang baik. Pimpinan eksekutif masih tetap mempertahankan pendiriannya. “Saya pikir Anda benar, tetapi buat saya rasanya tetap saja tidak benar.” Orang yang pikirannya terlalu tertutup dalam satu bidang mungkin saja sangat luwes dalam bidang lain.
Analisis kasus
Dari kasus di atas dapat kita lihat bahwa respon terhadap ketidakpuasaan kerja sangat terlihat salah satunya adalah Neglect, Ketidakpuasaan  ditunjukkan  melalui  tindakan  secara  pasif membiarkan  kondisi  semakin  buruk,  termasuk  kemankiran  atau keterlambatan  secara  kronis,  mengurangi  usaha,  dan  meningkatkan tingkat kesalahan. Hal ini di akibatkan karena pimpinan eksekutif ini sangat sulit untuk menyesuaikan dirinya dengan berbagai strategi pemasaran inovatif atau berbagai teknik industri yang baru. Pendapatnya yang kaku mengenai gaji yang rendah dapat merugikan perusahaannya dan tidak mau menerima gagasan yang bertentangan dengan pikirannya sehingga sangat sulit mengubahnya. Membuat para karyawan bekerja secara tidak maksimal dan tidak mengalami peningkatan. Hal ini dapat  di atasi dengan cara mempercayakan tugas itu kepada seorang rekan, menerapkan suatu sistem pintu terbuka, atau mendorong kerjasama antar karyawan yang independen dan setia. Pastikanlah jangan sampai sikap yang kaku membuat anda menjadi musuh anda sendiri yang paling besar.

Daftar Pustaka
Moh. As’ad. (1998). Psikologi Industri. Yogyakarta : Liberty
Waluyo, Minto. (2013). Psikologi Industri. Jakarta: Akademia Permata
Pandji Anoraga. (1992). Psikologi Kerja. Jakarta : PT Rineka Cipta



Sabtu, 19 November 2016

Job Enrichment

1.    Pengertian Job Enrichment
       Menurut Mathis dan Jackson (2006) Job Enrichment adalah peningkatan kedalam sebuah pekerjaan dengan menambah tanggung jawab untuk merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengevaluasi pekerjaan.
       Job enrichment merupakan suatu pendekatan untuk merancang kembali pekerjaan karyawan guna meningkatkan motivasi intrinsik dan meningkatkan kepuasan kerja dengan memberikan mereka kesempatan untuk menggunakan berbagai kemampuan mereka.
       Job enrichment adalah memperluas rancangan tugas untuk memberi arti lebih dan memberikan kepuasan kerja dengan cara melibatkan pekerja dengan pekerjaan perencanaan, penyelenggaraan organisasi dan pengawasan pekerjaan sehingga job enrichment bertujuan untuk menambah tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, menambah hak otonomi dan wewenang merancang pekerjaan dan memperluas wawasan kerja.
       Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan job enrichment adalah suatu pendekatan untuk peningkatan pekerjaan karyawan dengan menambah tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan melibatkan pekerja seperti penambahan tanggung jawab tugas, perencanaan tugas dan kontrol kualitas pekerjaan yang ditanganinya. Membuat pekerja lebih merasa nyaman dan mempunyai tanggung jawab lebih atas pekerjaan yang dilaksanakan. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam  job enrichment tergantung oleh kekuatan karyawan untuk berkembang dan berpikir positif.
2.    Langkah-Langkah Dalam Redesign
Terlalu banyak pekerjan membuat para pekerjaan merasa tidak nyaman dan lebih cepat bosan saat bekerja. Dan manajemer memiliki peran penting untuk memikirkan kembali dan merancang-ulang agar pekerja tetap merasa nyaman saat bekerja.
Ada beberapa pilihan yang dimiliki para manajer jika ingin melakukan job redesign yaitu :
A.  Menggabungkan Tugas
Menggunakan  berbagai  macam  keterampilan, variasi  tugas, meningkatkan keanekaragaman dan identitas tugas membuat pekerjaan terasa lebih bermakna  dan penting
B.  Menciptakan Unit Kerja Alami
Tugas  pekerja  dilakukan  sama,  mengartikan  dan mengidentifikasi  seluruhnya sehingga tidak relevan dan membosankan
C.  Menampilkan Hubungan Pelanggan
Hubungan pekerja dan pelanggan harus baik agar mendapatkan komitmen  kerja  dan  motivasi yang meningkat.
D.  Memperluas Pekerjaan Vertikal
Ketika pekerjaan dibebani secara vertikal, otonomi naik, pekerja merasa tanggung jawab personal dan akuntabilitas untuk outcomes/dampak dari usaha mereka.
E.   Membuka Saluran
FeedbackFeedback digunakan untuk memperbaiki kinerja, menyamakan  pekerjaan, memperburuk atau mengulang pada tingkat yang  tetap.
F.   Rotasi Pekerjaan
Perubahan pekerja dari satu tugas ke tugas yang lain pada tingkat yang sama yang mempunyai persyaratan keterapilan yang serupa untuk mengurangi kebosanan dan meningkatkan motivasi.
3.    Pertimbangan-Pertimbangan dalam Job enrichment
Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam  job enrichment tergantung oleh kekuatan karyawan untuk berkembang dan berpikir positif. Ada  lima  dimensi  inti  dari  sebuah  pekerjaan  yang  mempengaruhi  job enrichment biasanya  memberikan  kontribusi  kepada  orang-orang  yang  menikmati pekerjaan
A.  Skill Variety
Meningkatkan jumlah individu keterampilan yang digunakan ketika melakukan pekerjaan.
B.  Task  Identity
Mengaktifkan  orang  untuk  melakukan  pekerjaan  dari  awal sampai akhir.
C.  Task Significance
Memberikan pekerjaan yang memiliki dampak langsung terhadap organisasi atau para stakeholder.
D.  Autonomy
Meningkatkan  tingkat  pengambilan  keputusan,  dan  kebebasan untuk memilih bagaimana dan ketika pekerjaan selesai.
E.   Feedback
Meningkatkan  jumlah  pengakuan  untuk  melakukan  pekerjaan dengan baik, dan mengkomunikasikan hasil karya orang.
4.    Contoh Studi Kasus Dalam Redesign Job Enrichment
Di sebuah pabrik sepatu banyak pekerjaan tidak memenuhi persyaratan. Misalnya, sekelompok pekerja hanya diberi tugas packing barang. Karakteristik pekerjaan mereka sebagai packing barang sebagai berikut :
a.    Task identity (identitas tugas): Karena pekerja hanya bertugas packing barang mereka tidak dapat melihat keseluruhan proses kerja mulai dari awal hingga akhir
b.    Task significance (signifikansi tugas): Para pekerja merasa bahwa pekerjaan mereka tidaklah penting
c.    Skill variety (variasi keahlian): Pekerjaan ini hanya membutuhkan satu jenis keahlian, yaitu packing barang
d.   Autonomy (otonomi): Para pekerja tidak memiliki pilihan atau kontrol dalam pekerjaan mereka
e.    Feedback (umpan balik): Para pekerja tidak mendapatkan umpan balik sehingga mereka tidak mengetahui apakah mereka telah bekerja dengan baik atau tidak.
Dalam situasi seperti ini, para pekerja tidak mempunyai alasan untuk merasa antusias, termotivasi, atau merasa puas akan pekerjaan mereka karena masing-masing kelompok tergantung pada kelompok sebelumnya. Sulit bagi perusahaan untuk menentukan target yang spesifik untuk setiap kelompok pekerja akhirnya, perusahaan hanya dapat memberikan target yang tidak spesifik misalnya ”Bekerjalah sebaik mungkin” untuk semua kelompok. Hal ini patut disayangkan karena tidak dapat memotivasi pekerja untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi

Daftar pustaka :

Sunyoto Munandar, Ashar. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Universitas Indonesia

Sabtu, 05 November 2016

INI TEORI-TEORI MOTIVASI

Motivasi adalah sesuatu di dalam diri manusia yang memberi energi, yang mengaktifkan dan menggerakkan ke arah perilaku untuk mencapai tujuan tertentu (Barnes dalam Winardi, 2007). Motivasi mengacu pada dorongan baik dari dalam atau dari luar diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan pencapaian tujuan (Daft dalam Winardi, 2007).
A.  Teori Penguatan (Reinforcement Theory)

Menurut teori ini, ketika  ingin tetap dianggap  keberadaannya, maka  kita termotivasi untuk bekerja keras  mencapai tujuan yang ditetapkan, untuk memuaskan kebutuhan. Jika suatu perilaku diberi balasan yang menyenangkan,maka cenderung diulangi pada masa mendatang. Sebaliknya, jika perilaku diberi hukuman maka tidak akan diulangi pada masa mendatang. Kunci teori  penguatan ialah bahwa teori ini mengabaikan factor factor seperti, sasaran, harapan, dan kebutuhan. Sebagai gantinya, teori ini hanya memusatkan perhatian pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia mengambil tindakan tertentu.
Implikasi Teori Penguatan (Reinforcement Theory) :
1. Bila bekerja keras menyebabkan  penghargaan  dalam bentuk  gaji,  bonus, peningkatan kesejahteraan, dan promosi  jabatan,  serta penghargaan ini  memuaskan kebutuhan,  maka karyawan  akan termotivasi  melanjutkan  bekerja dengan keras.
2. Bila pekerjaan yang dihasilkan mendapat perhatian dan penghargaan,  maka  karyawan  akan terus  meningkatkan prestasinya,sehingga hal  ini  akan  memotivasi  kebutuhannya akan pencapaian  dan memotivasi  kerja  di  masa yang  akan  datang. 
B.  Teori Harapan (Expectancy Theory)

Teori pengharapan menekankan perilaku yang diharapkan. Teori ini mengatakan bahwa dengan harapan mempengaruhi perilaku tertentu seorang individu dan cenderung bertindak dengan cara tertentu berdasarkan pengharapan bahwa tindakan tersebut akan mendapatkan hasil yang baik dari apa yang telah dilakukan. Seseorang  akan memaksimalkan sesuatu yang menguntungkan dan meminimalkan sesuatu yang merugikan bagi pencapaian tujuan akhirnya.  Jadi  harapan  seseorang  mewakili keyakinan  seorang  individu  bahwa  tingkat  upaya tertentu akan diikuti oleh suatu tingkat kinerja tertentu. Karyawan akan termotivasi untuk mengerahkan segala upaya ketika mereka percaya bahwa usaha yang mereka lakukan mengarah pada penilaian kerja yang baik. Penilaian kerja yang baik akan menghasilkan reward seperti bonus,  kenaikan gaji atau promosi.
Implikasi Expectancy Theory :
1.  Para manajer dapat mengkorelasikan hasil yang lebih disukai untuk tingkat kinerja yang          ditujukan.
2.    Para  manajer  harus  memastikan  bahwa  karyawan  dapat  mencapai  tingkat kinerja yang    ditujukan.
3.    Karyawan harus dihargai untuk kinerja luar biasa mereka.
4.    Sistem imbalan harus berlaku jujur dan adil dalam suatu organisasi.
5.    Organisasi harus merancang pekerjaan yang dinamis dan menantang.
6.   Tingkat  motivasi  karyawan  harus  terus  dikaji  melalui  berbagai  teknik  seperti kuesioner,  wawancara personal, dan lain-lain.
C.  Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory)
Menurut  Locke (dalam Danim 2004)  teori  pencapaian  tujuan  menyatakan  bahwa  individu akan selalu  melakukan  perhitungan  dalam pengambilan keputusan  untuk  mencapai tujuan  yang  diinginkan.  Di saat individu  menentukan tujuan yang  harus  dicapai,  niat mencapai tujuan akan  mengarahkan  dan memotivasi untuk mencapainya. Sehingga pencapaian  tujuan  akan mempengaruhi  perilaku individu dan kinerja mereka. Dengan demikian tujuan harus secara rasional atau masuk akal.
Implikasi Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory) :
1.  Jika karyawan diberikan tujuan yang spesifik dan sulit, dan diberikan feedback, maka akan menghasilkan performance yang tinggi, dan individu akan berusaha lebih baik ketika mereka mendapatkan feedback tentang seberapa baik hal yang telah mereka lakukan.
2.  Ketika karyawan menerima tugas yang sulit, ia akan mengeluarkan upaya yang tinggi sampai tugas tersebut dicapai atau ditinggalkan.
D.  Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Harold Maslow
Abraham Harold Maslow mengemukakan “Hierarchy of needs theory” bahwa manusia dimotivasi oleh berbagai kebutuhan dan keinginan ini muncul dalam urutan hirarki. Adapun kelima tingkatan tersebut adalah (Handoko,dalam Ishak, 2003) :

1.    Kebutuhan Fisiologis ( Physiological Needs)
a.    Teoritis : kebutuhan pangan, sandang, papan, bebas dari rasa sakit
b.    Implikasi: ruang istirahat, air untuk minum, liburan, cuti, balas jasa.
2.    Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan Kerja (Safety & Security Needs)
a.    Teoritis : perlindungan dan stabilitas
b.    Implikasi: pengembangan karyawan, kondisi kerja yang aman, rencana - rencana senioritas, serikat kerja, tabungan, uang pesangon, jaminan pensiun, asuransi.
3.    Kebutuhan Sosial (Social Needs)
a.   Teorits : Cinta, persahabatan, perasaan memiliki dan diterima dalam kelompok, kekeluargaan dan sosialisasi.
b.    Implikasi: kelompok-kelompok kerja formal & informal, kegiatan-kegiatan yang disponsori perusahaan, acara peringatan.
4.    Kebutuhan Penghargaan ( Esteem Needs)
a. Teoritis : Status atau kedudukan, kepercayaan diri, pengakuan, reputasi dan prestasi, apresiasi, kehormatan diri dan penghargaan.
b.    Implikasi: kekuasaan, ego, promosi, jabatan, hadiah, status.
5.    Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
a.   Teoritis : Penggunaan potensi diri, pertumbuhan, pengembangan diri.
b. Implikasi:Menyelesaikan penugasan-penugasan yang bersifat menantang,melakukan    pekerjaan-pekerjaan kreatif, pengembangan ketrampilan.

Maslow berpendapat Apabila salah satu kebutuhan sudah terpuaskan maka kebutuhan selanjutnya menjadi dominan. 

Daftar Pustaka
Arep,  Ishak,  dan  Hendri  Tanjung.  (2003).  Manajemen Motivasi. PT. Grasindo : Jakarta.
Danim,  Sudarwan.  (2004).  Motivasi  Kepemimpinan  & Efektivitas  Kelompok.  Jakarta :            PT.  Rineka Cipta.

Winardi,  J.  (2007).  Motivasi  dan  Pemotivasian  dalam Manajemen.  PT.  Raja  Grafindo          Persada  : Jakarta.